Home » Pembelajaran Reflektif

Pembelajaran Reflektif

Pembelajaran reflektif merupakan salah satu metode pembelajaran klinis. Metode sederhana namun -jika diterapkan dengan benar- efektif untuk mengkonstruksi pengetahuan baru berbasis bukti dari berbagai pengalaman di klinik.

PENGERTIAN PEMBELAJARAN REFLEKTIF

Pembelajaran reflektif adalah kegiatan mencari referensi atau telusur pustaka, menginterpretasi, memahami, mengevaluasi, dan menganalisis pengalaman (di klinik) yang dialami sebagai pedoman untuk melakukan intervensi berikutnya (Embo, et al., 2014).

Poin Penting: Berdasarkan pengertian tersebut dapat digarisbawahi bahwa pembelajaran reflektif sebagai salah satu metode pembelajaran klinik bukan semata-mata “curhat biasa” seperti yang selama ini dipersepsikan oleh sebagian orang (akan saya kupas dengan detail pada poin langkah-langkah pembelajaran reflektif). Pembelajaran reflektif adalah “curhat ilmiah” atau “curhat profesional” dimana dalam prosesnya terdapat telusur pustaka dan proses kognitif tingkat tinggi: mengevaluasi dan menganalisis.

PENTINGNYA PEMBELAJARAN REFLEKTIF

Apa saja sebenarnya keuntungan melakukan pembelajaran reflektif dengan benar? Sebuah telusur pustaka yang dilakukan pada empat database besar: Medline, CINAHL, EBSCO dan Google Scholar telah merangkum beberapa keuntungan pembelajaran reflektif (Caldwell & Grobbel, 2013):

1. Refleksi adalah media melatih kemampuan MOVE ON dan DO BETTER

Ketika praktikan atau klinisi mengalami atau menemukan peristiwa yang kurang menyenangkan selama praktik klinik atau bekerja, refleksi dapat menjadi media untuk eksplorasi perasaan. Rencana tindak lanjut (RTL) yang didapat dari hasil refleksi dapat diterapkan pada kasus serupa di masa yang akan datang.

Harapannya, permasalahan termasuk perasaan yang menyertai permasalahan tersebut dapat teratasi –> MOVE ON –> DO BETTER.

Selesaikan! karena segala sesuatu yang tidak selesai akan menggerogoti.

Salam sehat jiwa!

2. Refleksi memfasilitasi belajar melalui pengalaman

Refleksi diri merupakan proses mencari solusi berbasis referensi terhadap permasalahan yang ditemui selama praktik atau bekerja di klinik. Permasalahan dapat muncul tidak hanya dari pengalaman diri sendiri melainkan pengalaman sejawat/orang lain (hasil observasi). Selain itu, refleksi dapat menggarisbawahi kelebihan dan kekurangan dari seorang mahasiswa praktikan atau klinisi (contoh: perawat atau dokter).

Harapannya dengan menerapkan proses refleksi diri secara benar, praktikan dan klinisi dapat merekonstruksi pengetahuan baru yang benar. Refleksi diri secara benar pasti melibatkan pencarian referensi, proses evaluasi dan analisis. Sehingga RTL yang didapatkan akan berbasis bukti atau referensi tidak sekadar hasil bertanya kesana kemari tanpa proses validasi.

Masih banyak lagi penelitian-penelitian tentang pentingnya refleksi diri.

Kesimpulannya adalah pembelajaran refleksi adalah komponen penting dalam pengembangan kerangka berpikir kritis dan kemampuan lanjut klinik mahasiswa praktikan dan klinisi (baik perawat, mau pun dokter, apoteker dan tenaga kesehatan lainnya) (Caldwell & Grobbel, 2013).

LANGKAH-LANGKAH PENULISAN REFLEKSI DIRI 

Ada banyak model pembelajaran reflektif yang populer digunakan seperti Gibbs’, John’s, Borton’s model. Kali ini saya akan mencoba fokus untuk memaparkan Gibbs’ model karena model ini yang paling banyak digunakan. Setiap langkah pada model Gibbs memiliki penjelasan secara detail akan tetapi penggunaannya di klinik memiliki berbagai penyesuaian dan modifikasi. Ini hanya salah satu alternatif yang bisa digunakan. Tentu saja penggunaan model ini dikembalikan pada individu yang menerapkan dan kebijakan masing-masing instansi (jika ada).

Saya akan menjelaskan setiap langkah model Gibbs disertai dengan contoh kasus refleksi. Kasus yang digunakan adalah kasus dari perspektif mahasiswa, akan tetapi proses pembelajaran reflektifnya sama, baik untuk mahasiswa dan klinisi (contoh: perawat dan dokter). Sehingga relevan digunakan oleh keduanya.

Contoh kasus refleksi diambil dari pengalaman saya saat menjadi mahasiswa keperawatan program S1 di salah satu universitas negeri ternama. Saat itu saya mendapat penempatan praktik profesi di rumah sakit pendidikan dan rujukan.

1. Deskripsi

Pada tahap ini kita diminta untuk mendeskripsikan ke dalam tulisan peristiwa yang terjadi. Peristiwa yang ingin direfleksikan adalah peristiwa dapat berupa peristiwa yang (1) kurang menyenangkan atau (2) masih menjadi ganjalan dan tanda tanya atau (3) memiliki kesan positif:

Hari ini adalah hari pertama saya masuk dan praktik di bangsal. Saat persiapan pemberian obat saya dimarahi oleh pembimbing klinik karena tidak tepat menjawab cara kerja, indikasi dan kontraindikasi beberapa obat antibiotik populer di bangsal serta berapa cc yang diperlukan untuk mengoplos. Saat itu saya dimarahi di depan mahasiswa dari institusi yang lain. Tangan saya gemetar ketika mengoplos obat.

Poin penting: Fokus pada deskripsi peristiwa terlebih dahulu. Eksplorasi pengalaman. Ingat betul peristiwanya, kalau bisa deskripsikan secara detail dengan tetap memperhatikan etika penyebutan nama atau institusi sebagai salah satu bentuk menjaga privasi.

Pada tahap ini DILARANG BAPER, alias bawa perasaan. Artinya jangan dulu mengeksplorasi perasaan di tahap ini. Sabar. Semua ada waktunya. Maksud saya, eksplorasi perasaan dilakukan pada tahap ke-2 setelah ini.

2. Perasaan

Eksplorasi perasaan yang muncul ketika mengalami atau melihat peristiwa tersebut:

Saat itu saya merasa malu, takut, tidak percaya diri dan harga diri rendah. Selain itu saya merasa kecewa terhadap pembimbing klinik saya.

Poin penting: be true to yourself. Jujur terhadap perasaan sendiri. Eksplorasi sampai tuntas, tuliskan dan selesaikan agar tidak meninggalkan trauma.

3. Evaluasi

Tahap ini terdiri dari 3 komponen yaitu menuliskan hal-hal apa saja yang menurut kita sudah benar yang telah dilakukan, hal-hal apa saja yang menurut kita masih bisa ditingkatkan lagi serta mengapa perasaan yang menyertai peristiwa itu bisa muncul:

Hal yang sudah benar yang telah saya lakukan ketika dimarahi adalah saya merespon dengan asertif, mendengarkan, saya mampu mengontrol emosi saya dan saya tidak menangis.

Hal yang masih bisa ditingkatkan lagi adalah saya seharusnya membaca terlebih dahulu laporan pendahuluan saya dan mendaftar obat-obatan yang paling sering digunakan di ruangan tersebut serta mencari minimal indikasi, kontraindikasi, cara kerja dan cara pemberian obat tersebut sebelum praktik. Selain itu seorang pembimbing klinik menurut saya harus dapat mengarahkan peserta didik dengan asertif dan konstruktif.

Saya merasa malu, tidak percaya diri dan harga diri rendah karena saat itu saya dimarahi dengan suara yang cukup keras untuk didengar oleh mahasiswa dari institusi lain serta perawat ruangan. Saya merasa kecewa karena pembimbing klinik seharusnya menjadi pengayom dan memberikan rasa aman dan nyaman kepada peserta didik kliniknya.

Poin penting: ketika melakukan evaluasi pastikan ketiga ranah kemampuan dievaluasi: (1) kognitif, (2) psikomotor, dan (3) perasaan atau afektif. Biasanya mahasiswa atau klinisi hanya mengevaluasi ranah kognitif atau psikomotor tanpa mengevaluasi perasaan atau ranah afektif.

4. Analisis

Poin penting: Tahap ini merupakan tahap yang sangat krusial dalam rekonstruksi pengetahuan baru berbasis bukti. Keabsahan rencana tindak lanjut (RTL) sangat ditentukan pada tahap ini. Kita harus mencari referensi terkait pengalaman yang berhubungan dengan ketiga ranah: kognitif, psikomotor dan afektif serta menganalisis temuannya. Jangan lupa mencari referensi atau rujukan yang bisa menyelesaikan masalah pada ranah afektif.

Referensi tidak harus dari jurnal. Buku ajar atau semisal itu dipersilakan selama masih relevan sesuai masalah yang ingin diselesaikan. Artinya bisa merujuk buku psikologi untuk mengatasi masalah perasaan. Tidak melulu harus buku-buku Medikal Bedah atau semisal itu. Tidak harus juga mencari 20 referensi. Cukup 2 atau 3 referensi yang terpenting ada pembanding.

Tahap ini sering diabaikan atau kurang optimal dilakukan karena kesibukan. Padahal kualitas RTL sangat ditentukan di tahap ini:

Saya merujuk buku IONI, MIMS, Etiket untuk memperbaharui pengetahuan saya terkait obat antibiotik dan obat lainnya.

Saya merujuk dan mencari buku terkait bimbingan dan pembelajaran klinik untuk mengetahui bagaimana seharusnya proses ideal bimbingan dan pembelajaran klinik. Apa ekspektasi dan kendala yang dihadapi. Sekaligus merujuk pada manajemen konflik emosi dan membangun hubungan dengan pembimbing klinik.

Informasi yang didapat pada tahap ini sebisa mungkin ditulis dengan detail dan dilengkapi dengan referensi. Informasi baru yang bermanfaat untuk mengisi gap pengetahuan baik ranah kognitif, psikomotor dan afektif dituliskan secara lengkap dan jelas.

5. Kesimpulan/Rencana Tindak Lanjut (RTL)

Tahap ini bisa dijadikan satu. Kita bisa mendaftar RTL yang didapatkan dari hasil mencari referensi serta menganalisis permasalahan yang terjadi:

Ketika saya diminta mempersiapkan obat antibiotik saya akan menerapkan prinsip 6 Benar pemberian obat. Saya akan mulai mengumpulkan etiket obat dan menghapal obat-obatan yang sering digunakan di ruangan tersebut sebagai bentuk investasi saya ke depan.

Jika kelak saya menjadi pembimbing klinik saya ingin memiliki karakteristik pembimbing klinik yang mampu berkomunikasi dengan peserta didik secara asertif, approachable, dapat memberikan rasa aman, dan umpan balik yang konstruktif.

Pengalaman ini menjadi salah satu alasan saya mengapa salah satu area fokus saya adalah pada pendidikan klinis.

Poin penting!

Perbedaan refleksi diri mahasiswa dengan tenaga kesehatan terletak dari entry point peristiwa. Mahasiswa cenderung masuk lewat fenomena yang terjadi, gap antara apa yang diajarkan di kampus dengan yang terjadi di lapangan. Sedangkan tenaga kesehatan, perawat misalnya masuk lewat pertanyaan klinis, misal ketika merawat pasien dengan total hip replacement apakah pengaliran drainase secara berkala dapat mempercepat proses penyembuhan pasien.

Perbedaan kedalaman analisis pada tahap ke-4 proses pembelajaran reflektif, yaitu tahap analisis ditentukan oleh pertanyaan klinis atau fenomena yang diobservasi. Tentu akan berbeda tingkat analisis antara pertanyaan mengenai (1) apa indikasi dan kontraindikasi dari obat antibiotik? seperti pada kasus di atas dengan (2) apakah pengaliran drainase berkala pada total hip replacement dapat mempercepat proses penyembuhan? Untuk dapat menjawab pertanyaan klinis ke-2 diperlukan evidence-based terbaru serta kemampuan yang mencukupi untuk menganalisis, mengkritisi dan menerapkan evidence-based termasuk metodologi yang digunakan.

Demikian semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

  1. Caldwell and Grobbel (2013) The importance of reflective practice in nursing. International Journal of Caring Sciences September – December Vol 6 Issue 3 http://internationaljournalofcaringsciences.org/docs/4.%20us%20La.Caldwell.pdf
  2. M. P. C. Embo, E. Driessen, M. Valcke, and C. P. M. Van Der Vleuten (2014) Scaffolding reflective learning in clinical practice: A comparison of two types of reflective activities. Medical Teacher Vol. 36 , Iss. 7 http://www.tandfonline.com/doi/full/10.3109/0142159X.2014.899686?scroll=top&needAccess=true
  3. Nicol JS, Dosser I (2016) Understanding reflective practice. Nursing Standard. 30, 36, 34-40. http://journals.rcni.com/doi/pdfplus/10.7748/ns.30.36.34.s44

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *