Lompat ke konten
Home » Pemberian Dukungan Berduka Akut di Instalasi Gawat Darurat

Pemberian Dukungan Berduka Akut di Instalasi Gawat Darurat

Fenomena

Berduka akut merupakan suatu kondisi yang kerap kali dialami oleh keluarga mau pun orang terdekat pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berbeda dengan berduka kronis (contoh pada pasien yang menderita kanker atau penyakit kronis lainnya), keluarga dan orang terdekat pasien mungkin sudah terinformasikan dengan jelas terkait kondisi pasien. Sehingga mental mereka mungkin sudah lama dipersiapkan sekiranya mereka akan kehilangan orang yang disayang. Pada berduka akut khususnya karena kecelakaan lalu lintas atau semisalnya, keluarga dan orang terdekat tidak memiliki persiapan yang sama. Contoh pada pagi hari suami dan istri masih sarapan bersama, janjian untuk nonton film Avatar malam hari sepulang kerja. Siang hari sang Istri diinfokan bahwa suami mengalami kecelakaan dan saat ini dirawat di IGD, sesampainya di IGD dijelaskan bahwa kondisi suami kritis, beberapa menit kemudian meninggal. Kondisi yang dialami oleh sang Istri seperti inilah yang disebut berduka akut, yang akan dibahas dalam artikel kali ini.

Berikut merupakan tindakan-tindakan yang dapat dilakukan oleh perawat untuk memberikan dukungan pada keluarga atau orang terdekat yang mengalami berduka akut di IGD. Saya coba rangkum dari pengalaman, beberapa hasil penelitian, telusur pustaka, dan pedoman.

Intervensi Berduka Akut

1. Hadirkan keluarga saat proses resusitasi

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa, hadir ketika proses resusitasi dapat membantu menguatkan keluarga saat proses berduka. Dalam penelitian tersebut dilaporkan tidak ada efek negatif secara psikologis yang dialami keluarga saat menyaksikan pasien atau orang yang mereka sayang diberikan resusitasi jantung paru, atau tindakan-tindakan penyelamatan nyawa. Justru ketika gejala-gejala terkait sindrom distress pasca trauma seperti depresi, berduka berkepanjangan, perasaan bersalah malah akan dialama oleh keluarga yang tidak hadir pada saat proses resusitasi.   

Akan tetapi, proses resusitasi bisa menjadi trauma tersendiri untuk keluarga yang tidak mengerti apa yang sedang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Sehingga direkomendasikan untuk memberikan penjelasan kepada keluarga selama proses resusitasi berlangsung. Atau diberikan pilihan kepada keluarga untuk tidak hadir saat proses resusitasi.

2. Berikan informasi yang cukup

Pemberian informasi yang cukup kepada keluarga tidak hanya dilakukan saat proses resusitasi. Sebelum kondisi pasien mengalami perburukan, kondisi pasien, perawatan yang dilakukan dan update tindakan yang diberikan juga perlu disampaikan kepada keluarga dań orang terdekat. Sehingga mereka dapat mempersiapkan diri terkait apa pun hasilnya, termasuk kematian. Perlu digarisbawahi bahwa jika pasien telah meninggal, maka informasi terkait penyebab kematian dan kondisi pasien ketika meninggal (contoh: apakah pasien merasakan nyeri, apakah sempat dituntun untuk membaca tahlil atau ritual keagamaan lainnya menjelang kematian) perlu diinformasikan kepada keluarga ketika keluarga atau orang terdekat telah sampai di IGD. Informasi-informasi tersebut sangat penting bagi keluarga atau orang terdekat untuk memastikan bahwa kematian pasien bukan disebabkan oleh kesalahan keluarga. Sehingga meminimalkan perasaan bersalah mereka. Hal ini termasuk salah satu bentuk persiapan diri.

Selain itu informasi terkait apa yang harus dilakukan selanjutnya jika pasien meninggal: seperti pengurusan surat kematian, pelayanan ambulans, pemulasaran jenazah, bimbingan rohani dan pelayanan serta sumber daya lain yang tersedia untuk membantu keluarga juga perlu diinformasikan kepada keluarga.

3. Sampaikan berita buruk dengan afeksi dan empati

Berdasarkan hasil penelitian cara tenaga kesehatan dalam menyampaikan berita buruk: seperti kematian dapat meminimalkan angka kesakitan keluarga secara psikologis akibat cara komunikasi yang buruk. Komunikasi perawat atau tenaga kesehatan lain yang diharapkan ketika menyampaikan berita buruk kepada keluarga perlu memunculkan afeksi dan empati, tidak tergesa-gesa, dan benar-benar meluangkan waktu untuk hadir secara fisik dan emosional.

Selain itu disarankan untuk mengalokasikan satu ruangan untuk menyampaikan berita buruk (atau sudut jika IGD sudah tidak memiliki ruangan kosong). Minta keluarga untuk duduk atau posisi senyaman mungkin. Hindari penyampaian berita buruk pada area yang sibuk dengan mobilisasi tingkat tinggi. Berikan kesempatan bertanya kepada keluarga. Fasilitasi keluarga untuk mendapatkan privasi bersama keluarga atau orang terdekatnya yang meninggal untuk mengucapkan selamat tinggal atau ritual keagamaan atau budaya apa pun yang ingin dilakukan. 

Referensi

1.Ito, Y., Tsubaki, M., & Kobayashi, M. (2021). Families’ experiences of grief and bereavement in the emergency department: A scoping review. Japan Journal of Nursing Science, 19( 1), e12451. https://doi.org/10.1111/jjns.12451 

2. Issacs, et al. (2018). Grief support in the ED. https://emedicine.medscape.com/article/806280-overview/ 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *